Pada sore 21 November 2022, gempa bermagnitudo 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat. Angka magnitudonya terbilang menengah, jauh di bawah gempa 9,1 yang memicu tsunami Aceh pada 2004. Namun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 335 orang meninggal dan lebih dari 600 orang luka-luka. Sebagian besar korban tewas meninggal karena bangunan tempat mereka berada runtuh menimpa tubuh mereka. Sekolah, rumah tinggal, dan fasilitas kesehatan yang seharusnya melindungi justru menjadi perangkap.

Peristiwa itu menyisakan pelajaran yang tidak nyaman. Selama bertahun-tahun, perdebatan publik tentang gempa selalu berputar pada satu pertanyaan: kapan gempa akan datang? Padahal pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana kita membangun, di mana kita membangun, dan siapa yang memastikan aturannya dijalankan. Prediksi gempa yang akurat mungkin belum akan datang dalam waktu dekat. Tetapi bangunan yang runtuh bisa dicegah hari ini, dengan teknologi yang sudah tersedia sejak puluhan tahun lalu.

Angka gempa yang tidak pernah berhenti

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar lima ribu gempa bumi setiap tahunnya di wilayah Indonesia, dengan jumlah yang bervariasi antara empat ribu hingga tujuh ribu per tahun tergantung aktivitas sesar dan zona subduksi. Rata-rata, itu berarti lebih dari sepuluh gempa setiap hari. Sebagian besar berkekuatan kecil dan tidak dirasakan. Indonesia rentan terhadap gempa karena frekuensinya yang tinggi dan karena gempa-gempa itu terjadi di bawah permukaan tanah yang dihuni ratusan juta orang.

Indonesia berdiri di pertemuan tiga lempeng tektonik besar: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Di sepanjang sisi barat Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara membentang zona subduksi tempat lempeng samudra menyusup ke bawah lempeng benua, dan sistem itulah yang menyimpan energi elastis lalu melepaskannya secara berkala. Ilmu pengetahuan dapat memperkirakan peluang gempa besar di sebuah segmen sesar dalam rentang puluhan tahun, sebagaimana Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG memetakan sumber gempa dan periode ulangnya. Namun ilmu pengetahuan belum mampu menyebut hari, jam, atau bahkan pekan terjadinya.

Ketidakpastian itu tidak akan segera diatasi oleh teknologi apa pun yang sedang dikembangkan saat ini. Para ahli kegempaan umumnya sepakat bahwa prediksi deterministik, yaitu prediksi yang menyebut kapan dan di mana gempa akan terjadi secara tepat, kemungkinan besar tetap mustahil. Sesar menyimpan tekanan secara tidak merata, dan pemicu pelepasan energi bisa berupa faktor yang sangat kecil. Ibarat panci presto yang terus dipanaskan: kita tahu tekanannya menumpuk, tetapi kita tidak bisa memastikan detik katupnya terbuka.

Keruntuhan yang sebenarnya bisa dihitung

Berbeda dengan gempa, perilaku bangunan bisa dihitung. Insinyur struktur telah mengembangkan metode analisis yang mampu memperkirakan bagaimana sebuah gedung merespons guncangan pada frekuensi dan percepatan tertentu. Standar Bangunan Gedung Tahan Gempa yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatur persyaratan detail untuk sambungan beton, penyediaan tulangan, jarak antar-kolom, hingga kekakuan lantai. Bangunan yang dirancang sesuai standar itu memiliki peluang jauh lebih baik untuk tetap berdiri, atau setidaknya memberikan waktu bagi penghuninya untuk keluar.

Persoalan utamanya terletak pada penerapan ilmu tersebut, bukan pada ilmunya. Berapa banyak bangunan di Indonesia yang benar-benar dibangun sesuai standar tahan gempa? Tidak ada angka tunggal yang pasti. Namun berbagai survei lapangan pada pascagempa berulang kali menemukan pola yang sama: rumah tumbuh yang dibangun sendiri tanpa gambar teknik, penambahan lantai tanpa perhitungan ulang kolom, dan bangunan publik yang dibangun dengan anggaran terbatas lalu mengabaikan detail penulangan kritis.

Kementerian PUPR memiliki program pembangunan dan rehabilitasi sekolah serta fasilitas kesehatan di daerah rawan gempa, tetapi skala kebutuhannya besar. Indonesia memiliki lebih dari 400 ribu satuan pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah, serta ribuan rumah sakit dan puskesmas tersebar di seluruh kepulauan. Sebagian dibangun puluhan tahun lalu, sebelum persyaratan tahan gempa diperketat. Setiap pagi, jutaan anak duduk di bangunan yang belum pernah diuji secara struktural terhadap guncangan besar.

Pelajaran dari Cianjur: guncangan yang tidak mematikan

Kajian pascabencana gempa Cianjur 2022 memberikan gambaran yang jelas. Gempa tersebut dipicu aktivitas Sesar Cimandiri yang melintas dekat permukiman padat. Guncangan terasa kuat karena kedalaman sumbernya dangkal, sekitar sepuluh kilometer. Tetapi kerusakan terparah terjadi pada bangunan yang memang tidak dirancang untuk menahan getaran. Sekolah-sekolah yang runtuh, rumah-rumah yang ambles, dan fasilitas kesehatan yang rusak menunjukkan titik lemah yang sama: kualitas konstruksi dan pengawasan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta berbagai tim kajian universitas mencatat bahwa kerusakan berat terkonsentrasi pada bangunan dengan mutu beton rendah dan tanpa pengikat struktural yang memadai. Bangunan yang dibangun dengan kolom beton bertulang dan ring balk yang benar relatif lebih tahan, meski berada di zona guncangan yang sama. Jarak antara bangunan yang bertahan dan bangunan yang runtuh kerap hanya beberapa meter, atau selisih beberapa batang besi tulangan.

Hal serupa terlihat pada gempa Palu 2018, gempa Lombok 2018, dan gempa Yogyakarta 2006. Setiap bencana menghadirkan pola yang berulang: korban berjatuhan di bangunan yang tidak memenuhi syarat. Laporan BNPB pada setiap peristiwa biasanya mencatat puluhan ribu rumah rusak, dengan proporsi kerusakan berat pada bangunan yang dibangun tanpa pengawasan teknis.

Tata ruang yang menentukan siapa yang selamat

Selain struktur bangunan, ada faktor lain yang jarang masuk perdebatan publik: tata ruang. Peta rawan gempa yang disusun lembaga pemerintah menunjukkan bahwa sebagian wilayah berisiko tinggi justru menjadi lokasi pertumbuhan permukiman dan kawasan industri. Di beberapa kota, pembangunan diizinkan di atas atau dekat jalur sesar aktif, dengan alasan ketersediaan lahan dan tekanan kebutuhan rumah.

Undang-Undang Penataan Ruang sebenarnya mewajibkan pemerintah daerah memperhatikan kawasan rawan bencana dalam rencana tata ruang wilayah. Namun praktiknya, rekomendasi teknis kerap kalah oleh kepentingan ekonomi. Peta zona sesar yang diperbarui setelah gempa besar sering tidak diikuti revisi izin lokasi. Akibatnya, rumah-rumah baru terus dibangun di tempat yang secara geologis tidak aman, dan biaya keselamatannya baru terbayar ketika gempa berikutnya datang.

Yang bisa dikerjakan tanpa menunggu prediksi

Jika prediksi tidak bisa diandalkan, maka investasi terbaik adalah pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Pertama, penguatan bangunan publik yang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang, yaitu sekolah, rumah sakit, masjid, dan gedung pemerintahan. Program retrofit bukan pekerjaan glamor, tetapi dampaknya langsung terasa ketika gempa terjadi. Beberapa negara di kawasan seismik tinggi, seperti Jepang dan Chile, menjadikan penguatan bangunan sebagai kebijakan nasional berkelanjutan setelah gempa besar melanda mereka.

Kedua, pengawasan konstruksi yang nyata, bukan sekadar dokumen. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang kini bertransformasi menjadi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) memuat persyaratan teknis, tetapi tanpa pemeriksaan lapangan yang konsisten, persyaratan itu hanya menjadi kertas. Di banyak daerah, jumlah pengawas bangunan jauh lebih sedikit dibanding jumlah proyek yang harus diperiksa.

Ketiga, edukasi teknis bagi masyarakat. Sebagian besar rumah di Indonesia dibangun secara swadaya oleh pemiliknya, dengan tukang yang belajar dari pengalaman, bukan dari pelatihan struktur. Panduan sederhana tentang penulangan kolom, ikatan bata, dan ring balk, yang disampaikan dalam bahasa sehari-hari, bisa menyelamatkan banyak nyawa dengan biaya yang sangat kecil.

Keempat, latihan evakuasi yang rutin di sekolah dan fasilitas publik. Ketika guncangan terjadi, yang menentukan adalah kekuatan bangunan sekaligus kecepatan orang keluar dan posisi berlindung. Jepang menjadikan latihan gempa sebagai bagian dari kalender sekolah. Di Indonesia, latihan semacam ini masih bergantung pada inisiatif sekolah atau lembaga kebencanaan, belum menjadi kebiasaan.

Waktu yang tidak pernah cukup

Setiap kali gempa besar terjadi, perhatian publik melonjak. Pemerintah menjanjikan rekonstruksi, relawan berdatangan, dan diskusi tentang kesiapan bencana memenuhi ruang berita. Beberapa bulan kemudian, perhatian memudar, dan pekerjaan penguatan bangunan yang tidak selesai dilupakan. Siklus ini berulang dari Aceh hingga Cianjur, dari Lombok hingga Sulawesi Barat.

Padahal, jeda antar-gempa besar adalah waktu paling berharga yang kita miliki, waktu untuk memperbaiki hal-hal yang sudah kita ketahui rentan alih-alih menunggu prediksi. Sebuah kolom beton yang diperkuat hari ini mungkin tidak akan terlihat dampaknya selama sepuluh atau dua puluh tahun. Tetapi ketika gempa datang, dan secara statistik ia akan datang, kolom itu akan menjadi pembeda antara bangunan yang berdiri dan puing yang menimpa penghuninya.

Cianjur mengajarkan bahwa magnitudo menengah pun bisa mematikan jika bangunan tidak siap. Persoalannya sudah bergeser dari kemampuan kita memprediksi gempa berikutnya. Pertanyaannya adalah apakah kita akan menggunakan waktu yang tersisa untuk membangun sesuatu yang layak ditinggali saat tanah berguncang.

📄 How to Cite This Article (APA)

Redaksi JA. (2026). "Ketika Gempa Tak Bisa Diprediksi, Bangunan yang Bisa Diselamatkan". PERSPEK. https://perspek.web.id